Home

pulau-kemaroPulau Kemaro yang terletak di tengah Sungai Musi, Palembang menjadi salah satu pusat perayaan Imlek di Asia Tenggara. Etnis Tionghoa dari berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam datang untuk merayakan Imlek di pulau ini. Bahkan ada juga pengunjung etnis Tionghoa dari Taiwan, China, dan Amerika datang ke pulau ini.

Mereka melakukan ritual ibadah untuk memohon rejeki dan jodoh kepada Dewa Bumi. “Ribuan pengunjung berdatangan ke pulau ini untuk merayakan Imlek dan Cap Go Meh,” kata juru kunci Pulau Kemaro, Burhan, ketika wartawan berkunjung ke pulau tersebut Minggu.

Pengunjung yang datang ke pulau ini percaya pada kisah masa lalu yang melatarbelakangi adanya pulau ini. Menurut cerita, pada masa lalu ada seorang pangeran dari Tiongkok bernama Tan Bu An yang ingin mempersunting seorang gadis asli Palembang bernama Siti Fatimah. Dari Tiongkok, dia dibekali oleh ayahnya yang merupakan seorang raja guci-guci berisi emas batangan untuk mempersunting sang gadis.

Tetapi sang raja tidak sempat berpesan jika emas tersebut ditutupi dengan sayur mayur dan ikan asin di atasnya. Tan Bu An yang hendak mempersunting Siti Fatimah merasa malu ketika melihat mahar yang akan diberikannya hanya berupa sayur mayur. Karena merasa malu, Tan Bu An kemudian membuang guci-guci tersebut ke Sungai Musi. Tetapi guci yang terakhir membentur dinding kapal dan berhamburanlah emas-emas tersebut. Dia pun tanpa berpikir panjang terjun ke Sungai Musi yang diikuti oleh Siti Fatimah dan
dayang-dayangnya. Akhirnya mereka tenggelam dan kemudian muncullah Pulau Kemaro.

welcome-to-kemaro-island

Selamat datang ke Pulau Kemaro

“Nama Pulau Kemaro berasal dari simbol makam Tan Bu An dan Siti Fatimah yang tidak pernah tersentuh air walaupun pulau ini kebanjiran,” ujar Burhan.
Makanya kemudian mereka rela datang jauh-jauh ke pulau ini memohon rejeki kepada Dewa Bumi. Bagi pengunjung yang datang bersama pasangan akan dilanggengkan cintanya layknya cinta Tan Bu An dan Siti Fatimah.

Replika Makam Siti Fatimah dan Tan Bu An. Tempat ini tidak pernah kemasukan air dari Sungai Musi walaupun air besar di musim hujan. Itulah yang menyebabkan pulau ini disebut Pulau Kemaro.

Simbol makam Siti Fatimah dan Tan Bu An. Tempat ini tidak pernah kemasukan air dari Sungai Musi walaupun air besar di musim hujan. Itulah yang menyebabkan pulau ini disebut Pulau Kemaro.

Ada juga pengunjung yang beragama Islam datang untuk berziarah ke simbol makam Siti Fatimah.
“Siapa saja boleh datang ke Pulau Kemaro untuk merayakan Cap Go Meh.
Saya pun hampir setiap tahun ke sana untuk bersembahyang,” kata seorang pengurus vihara di Palembang Bhiksu Lian Pu. Sama halnya dengan Liong Ki Cai yang tahun ini juga berencana ke Pulau Kemaro.

“Tidak hanya sembahyang tetapi ada beragam hiburan di sana seperti teater, opera wayang, barongsai, dan karaoke,” kata Lion Ki Cai.

Panitia perayaan Imlek di Pulau Kemaro pun mengaku telah menyiapkan kambing sebanyak 160 ekor untuk dimakan bersama di pulau ini. Kambing ini nantinya akan dipotong setengahnya lalu dimasak di dapur umum dan dibagikan kepada pengunjung pulau. Sisanya dibagikan kepada masyarakat sekitar.

“Kalau di daerah lain merayakan Imlek dan Cap Go Meh dengan memotong babi tetapi di sini memotong kambing karena pengunjung PulauKemaro tidak hanya etnis Tiong Hoa tetapi juga etnis Palembang yang beragama Islam,” kata Burhan. Kambing ini berasal dari sumbangan warga yang setiap tahun selalu datang ke sini sebagai bentuk terima kasih karena doa dan rejeki mereka telah dilancarkan.

Dewa Bumi

Dewa Bumi yang terletak di samping pagoda.

Selain di Pulau Kemaro, perayaan Imlek juga dilakukan di vihara dan kelenteng yang banyak tersebar di Palembang. Etnis Tionghoa sibuk membersihkan rumah mereka dan meriasnya dengan lampion dan pohon
bunga. “Juga tidak pernah ketinggalan kue keranjang yang hanya ada sewaktu Imlek,” kata salah seorang etnis Tionghoa Tjoa Tiong Gi.

Kue kerangjang yang dijual di Pasar 16 Ilir Palembang selalu habis diburu pembeli. “Setiap tahun saya jual ratusan keranjang. Dan selalu kekurangan,” kata Ko Aho yang sudah 30 tahun berjualan di pasar ini.
Begitu juga dengan buah jeruk yang banyak diburu untuk merayakan Imlek. “Ini saja saya sudah jual ratusan kilo menjelang Imlek,” kata seorang agen buah jeruk di Pasar Buah 16 Ilir Palembang Ko Aba.
“Buah jeruk yang berwarna kuning melambangkan emas yang berarti kesejahteraan,” kata Bhiksu Lian Pu.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s